Dibalik Perbuatan Nekad (3)

Misteri Anak Adam : Antara Nekat & Tekad

Tulisan ketiga (habis)

Bagaimana Melatih Emosi?

Tentu saja ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk melatih emosi itu. Di bawah ini baru sebagian dari sekian yang bisa kita lakukan. Justru yang paling penting di sini bukan soal caranya, melainkan lebih pada kemauannya. Sebagian cara itu antara lain:


Pertama,

Belajarlah untuk memunculkan emosi kedua yang positif atau konstruktif (berakibat baik). Kalau kita tiba-tiba mendengar orang mengatakan sesuatu tentang kita dan itu negatif, pastinya kita jengkel dong. Kalau kita dikhianati orang, memang wajarnya kita kecewa. Kalau kita dimarahi orang, memang umumnya kita marah juga. Kalau kita berada pada keadaan yang stressful, tentunya kita juga stress.

Jengkel, kecewa, marah atau stress dalam kondisi seperti di atas, itu disebut emosi pertama. Ledakan emosi pertama itu biasanya belum sempat kita pikirkan. Dan lagi, biasanya ini sulit dihindari. Apakah emosi pertama ini salah? Belum tentu juga. Selama itu wajar, proporsional dan tidak merugikan, bisalah itu dibilang manusiawi. Yang terkadang berbahaya adalah ketika kebablasan atau lebih dari wajar.

Supaya tidak sampai terlalu kebablasan, jangan membiarkan munculnya emosi kedua yang lebih negatif, membesar-besarkan atau malah meruncingkan masalah. Kita butuh belajar untuk memunculkan emosi kedua yang lebih positif atau yang lebih terkontrol untuk mengurangi atau mengantisipasi berkembangnya emosi pertama. Bisa dibayangkan, kalau kita mengembangkan sel emosi pertama yang negatif itu, masalah kecil jadi besar. Ada kan dulu orang yang membunuh tetangganya gara-gara kambing dan daun singkong?

Jadi, marah, jengkel, kecewa, dan semisalnya itu mungkin sulit dihindari saat kita tiba-tiba mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkan. Tapi, jangan sampai kita malah membiarkannya semakin marah, semakin jengkel, semakin kecewa yang berkelanjutan sehingga membuat kita gelap. Kontrollah, rem lah dan munculkanlah emosi kedua yang positif. Kalau pun tidak langsung positif buat orang lain, minimalnya itu positif buat kita sendiri.

Kedua,

Lakukan puasa atau rutinas lain tertentu yang bisa memperbaiki kemampuan dalam mengendalikan diri. Pada tataran fisik, puasa itu ya menahan diri dari makan atau minum dalam batas waktu tertentu dengan niat perbaikan diri, pendekatan diri atau ibadah. Tentu ini dengan syarat asalkan kondisi fisik kita mendukung.

Tapi, supaya puasa kita itu punya efek yang lebih bagus, maka yang diperintahkan bukan saja puasa fisik itu. Puasa fisik itu bisa disebut kulitnya. Puasa yang diperintahkan adalah puasa lahir dan batin. Puasa batin adalah menahan diri dari berbagai dorongan negatif yang berakibat buruk pada diri kita, orang lain atau lingkungan, baik dalam jangka pendek atau jangka panjang.

Ketiga,

Ikutilah berbagai kegiatan yang melibatkan orang banyak dan membutuhkan energi tinggi. Ini misalnya saja masuk ke klub olahraga sesuai dengan kesukaan kita, menjadi relawan sosial, masuk dalam tim kerja, dan lain-lain. Kenapa ini penting? Emosi kita semakin terdidik seiring dengan tingkat kematangan. Untuk meraih tingkat kematangan yang lebih tinggi ini butuh proses. Salah satu prosesnya adalah kesediaan kita untuk memperbaiki diri dari berbagai gesekan, konflik, kesepakatan, kerja sama atau pergaulan dengan orang lain.

Keempat,

Tingkatkan kepedulian pada orang lain, terutama yang ikatannya dekat dengan kita. Ini misalnya anak, istri, suami, orangtua, suadara, teman-teman, dan lain-lain. Kenapa ini penting? Dari berbagai kasus yang ada, tindakan nekat itu ternyata tidak terjadi secara spontan dan tidak berdiri sendiri.

Logikanya, kalau kita ingin melancarkan perbuatan nekat, tapi kemudian kita ingat orangtua, anak, istri atau suami, ingat dosa, dan lain-lain, apa kemungkinan yang bakal terjadi? Kemungkinannya kita akan berpikir dua kali atau tidak jadi. Ingat pada hal-hal yang positif dan mempositifkan kita, karena itu, menjadi penting. Sebab itulah, baik agama atau ilmu pengetahuan, mengharamkan penggunaan zat-zat yang merusak akal sehat atau yang menghilangkan ingatan. Sudah banyak tindakan nekad yang dilakukan oleh seseorang pada saat mabuk.

Kelima,

Tumbuhkan kesadaran yang lebih kuat. Maksudnya seperti apa? Kesadaran yang lebih kuat adalah ketika kita menyadari bahwa hanya kita dan hanya dari kita perbaikan emosi itu akan terjadi. Jadi, angkatlah diri anda sebagai pemimpin atau pengendali. Kenapa? Kalau kita selalu mengandalkan keadaan atau orang lain, pastinya akan selalu ada keadaan atau orang yang mendukung untuk berbuat nekad. Karena itu, kita sendiri yang harus bisa mengemudikan diri kita. You are the law of yourself.

 

Semoga bermanfaat.

 

Sumber : e-psikologi.com

Leave a Reply